Puluhan Pelanggaran, Hanya Dua Disidik
Sumber : admin
4 June 2010
Berita Gresik - Selama pelaksanaan seÂluruh tahap Pilbup Gresik 2010, paÂnitia pengawas (panwas) pilbup meÂnemukan 20 pelanggaran. Di anÂtara seluruh pelanggaran itu, panÂwas hanya menetapkan dua peÂlanggaran yang bisa ditinÂdakÂlanjuti menuju tahap penyidikan.
Kemarin (3/6), dua pelanggaran terÂsebut dikirim panwas ke GaÂkuÂmdu (Penegakan Hukum Terpadu) PolÂres Gresik untuk disidik. Selain laporan, panwas menyerahkan baÂrang bukti (BB) plus laporan tersangka pelaku pelanggaran terÂsebut. Sementara itu, 18 temuan peÂlanggaran yang lain dianggap haÂngus.
”Kami hanya bisa menetapkan dua pelanggaran itu untuk masuk ke tahap selanjutnya. Yang lain tiÂdak bisa,” kata Ketua Panwas Pilbup M. Thoha kemarin.
Pelanggaran pertama yang maÂsuk penyidikan adalah dugaan adaÂnya money politics di Desa MoÂjotengah, Kecamatan MeÂnganti. Yang kedua adalah temuan kaÂsus pemilih yang nyoblos di leÂbih dari satu TPS (tempat peÂmungutan suara) di Desa Suci, KeÂcamatan Manyar.
Thoha menjelaskan, kasus lainÂnya tidak bisa ditindaklanjuti kaÂrena lemahnya kelengkapan bukti-bukti dugaan pelanggaran tersebut. Kasus money politics di Menganti, misalnya, dianggap panwas meÂmeÂnuhi unsur karena sudah ada peÂlapor asli, barang bukti, serta terÂlapor. Demikian juga kasus penÂcoblosan lebih dari sekali.
Namun, dalam 18 pelanggaran yang lain, tidak bisa ditemukan alat bukti. Misalnya, laporan peÂmilih nyoblos di lebih dari satu TPS di Sidayu. Menurut Thoha, peÂmilih itu memang terdata di tiga TPS. Tapi, dia tidak menggunakan hak pilihnya, sehingga tidak bisa disebut sebagai pelanggaran.
Atau, dugaan money politics di KeÂcamatan Bungah. Ternyata, peÂlapor kasus tersebut bukan peÂlapor asli. ”Sebab, pelapor itu tiÂdak menerima langsung barang bukÂti money politics,” katanya.
Pelanggaran terbanyak terjadi pada masa kampanye. Di anÂtaÂraÂnya, keikutsertaan anak-anak, pengÂgunaan fasilitas negara, dan keÂikutsertaan PNS dalam kamÂpanye para kandidat. Plus, peÂlanggaran selama masa coblosan yang meliputi dugaan adanya money politics dan pencoblosan lebih dari satu TPS.
Terkait minimnya jumlah peÂlanggaran yang bisa ditangani, ThoÂha membeberkan beberapa alasan. Selain tidak kompletnya bukti, dia mengakui kinerja panÂwasÂcam kurang maksimal. ”LaÂporÂan yang dibuat panwascam tiÂdak komplet,” tegasnya.
Dia mencontohkan temuan duÂgaan keterlibatan PNS dalam kamÂpanye beberapa kandidat peÂserta pilbup. Panwascam seÂbeÂnarnya sudah melaporkan kasus itu ke panwas. Masalahnya, terÂnyaÂÂta laporan tersebut sangat daÂtar. Panwascam tidak menjelaskan identitas si PNS atau bukti lain yang bisa memperkuat keterlibatan tersebut. ”Tentu saja kami agak suÂlit mengusutnya,” ujarnya. (ris/ruk)
Kata Kunci: Berita Gresik, Desa, fasilitas negara, Gakumdu, kampanye, Kecamatan, manyar, Menganti, Mojotengah, Money Politics, panitia pengawas, Panwas, pelanggaran, penegakan hukum terpadu, Pilbup Gresik 2010, PNS, Polres Gresik, suci, tempat pemungutan suara, TPS

knp harus ribut-ribut, kalu tujuannya sama. lebih baik teamwork.. kan masyarakatx juga jadi enak. kalau mau cari kursi.. beli aja di pasar dari pada ribut-ribut. wakil rakyat kok ribut trus